Rabu, 05 Januari 2011

Pagu Anggaran Kemenakertrans Rp 4,128 Triliun

Pagu Anggaran Kemenakertrans

Rp 4,128 Triliun

JAKARTA - Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada tahun 2011 memperoleh pagu anggaran sebesar Rp 4.128.286.700.000,- (Rp 4,128 triliun). Jumlah tersebut naik sebesar Rp 1.005.879.865 (Rp 1 triliun) dibandingkan pagu anggaran tahun 2010 yang sebesar Rp 3.122.406.835.000 (3,122 triliun).

Demikian diungkapkan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar saat penyerahan Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) dan Pemantapan Program tahun 2011 di Jakarta, Rabu (5/1).

Dari pagu anggaran Rp 4,128 T tersebut terbagi dalam anggaran pusat sebesar Rp 2.619.121.540.000 yang digunakan untuk melaksanakan tugas dan fungsi Kemenakertrans di pusat melalui 72 satuan kerja (Satker).

Sedangkan sisanya dialokasikan melalui dekonsentrasi sebesar Rp 222.189.226.000 di 33 Satker di seluruh provinsi Indonesia dan ditugaskan melalui tugas perbantuan sebesar Rp 1.509.165.160.000 pada 594 satker di provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Menakertrans mengatakan sesuai amanat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kemenakertrans telah melakukan penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) pada Rabu lalu (29/12/2010).

“Hal ini dimaksudkan agar seluruh satuan kerja dapat segera melaksanakan kegiatan sehingga mempercepat realisasi program pembangunan secara tepat waktu dan selesai menyeluruh dan sempurna pada akhir tahun anggaran 2011,“ kata Muhaimin.

Dalam penggunaan anggaran dan pelaksanaan program ketenagakerjaan dan ketransmigrasian, Muhaimin menegaskan perlunya pengelolaan yang baik demi terwujudnya good governance, yang diimplementasikan melalui akuntabilitas, berorientasi pada hasil, dikelola secara professional, efisien dan efektivitas, proporsional dan transparan.

“Salah satu bukti konkret untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah yang memenuhi prinsip-prinsip tepat waktu dan sesuai standard akuntasi pemerintah, “ kata Muhaimin.

Dia berharap, para kepala dinas yang melaksanakan tugas dan fungsi ketenagakerjaan dan ketransmigrasian agar meyakinkan pimpinan pemerintah daerah dan DPRD agar memberikan perhatian yang lebih dan prioritas bagi pembangunan ketenagakerjaan dan ketransmigrasian di daerah-daerah.

“Perhatian pemerintah daerah dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan pembangunan ketenagakerjaan, pengurangan pengangguran dan kemiskinan, serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat sebagai sasaran akhir pembangunan Indonesia,” kata Muhaimin.

Sedangkan bagi aparat di pusat, Muhaimin berpesan agar senantiasa memberikan bimbingan teknis dan petunjuk pelaksaaan kepada aparat di daerah. Selain itu, dibutuhkan pula upaya monitoring dan evaluasi serta menemukan solusi pemecahan masalah secara komprehensif. (A-78/kur) ***

Source : Pikiran-Rakyat Online.com, Rabu, 05/01/2011 - 15:42

Harga Cabe Meroket, Pedagang Sega Jamblang dan Tahu Petis Menjerit

Harga Cabe Meroket, Pedagang Sega Jamblang

dan Tahu Petis Menjerit

SUMBER - Para pedagang sega Jamblang (nasi Jamblang) dan tahu petis di Kab. Cirebon menjerit akibat harga cabe terus meroket dan tak kunjung turun, sementara mereka tetap harus membelinya agar tidak diprotes konsumen.

Informasi yang dihimpun Selasa (4/1) menyebutkan, harga cabe merah di sejumlah pasar seperti pasar Sumber, Pesalaran Plered, Jamblang dan Junjang Arjawinangun terus merangkak naik. Cabe merah yang sebelumnya antara Rp 35.000 hingga Rp 40.000 kini menapai Rp 45.000, sedangkan harga cabe rawit yang semula bisa dibeli antara Rp 40.000 hingga Rp 50.000 kini naik menjadi Rp 60.000.

"Pusing memikirkan harga cabe yang terus naik, sementara kami harus tetap bisa membeli agar para pembeli tidak protes," kata Ny. Reni, seorang pedagang sega Jamblang di Plered.

Hal senada disampaikan Wartini, salah seorang pedagang sega Jamblang keliling. Akibat kenaikan harga cabe tersebut dirinya mengaku hanya sedikit membawa sambal yang terbuat dari cabe merah itu. "Yang penting dari rumah bawa sambal, meskipun sedikit, kalau udah habis banyak calon pembeli yang tidak jadi makan," katanya.

Sementara itu, Aldin, pedagang tahu petis di Sumber mengaku tetap menyediakan cabe rawit untuk melengkapi dagangannya, namun terpaksa mengirit, tidak seperti biasanya. "Beruntung pembeli rata-rata mengerti kalau harga cabe sedang mahal," katanya.

Menurut Taryani, seorang petani cabe di daerah Pabedilan, petani serba susah, ketika harga cabe melambung tinggi, tetapi cabe yang ditanam susah sekali hidup akibat banyaknya hama dan penyakit tanaman tersebut. Lagi pula, harga di tingkat petani tidak semahal di pasar atau para tengkulak. (A-146/das)***

Source : Pikiran-Rakyat Online.com, Rabu, 05/01/2011 - 04:50

2025 Target "Income" Per Kapita RI 10.000 Dollar

2025

Target "Income" Per Kapita RI 10.000 Dollar

AFP

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono

TERKAIT:

JAKARTA — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginginkan pendapatan per kapita penduduk Indonesia mencapai 10.000 dollar AS pada 2025.

"Kita perjuangkan supaya income per kapita mencapai 10.000 (dollar AS)," kata Presiden saat berpidato dalam pembukaan perdagangan perdana di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Senin (3/1/2011).

Presiden Yudhoyono menjelaskan, target itu dibuat dengan perhitungan yang rasional. Dia optimistis bisa mencapai target karena pendapatan per kapita penduduk Indonesia naik dua kali dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Menurut Kepala Negara, perjuangan untuk meningkatkan pendapatan per kapita adalah perjuangan seluruh rakyat Indonesia dari berbagai kalangan. "Itu akan kita perjuangkan secara adil untuk semua," kata Presiden.

Presiden mengatakan, target pencapaian pendapatan per kapita sebesar 10.000 dollar AS itu selaras dengan target Indonesia untuk menjadi kekuatan baru di dunia. "Visi Indonesia 2025, kita ingin menjadi emerging nation," kata Presiden Yudhoyono.

Presiden meminta semua warga negara Indonesia saling bekerja sama sehingga Indonesia bisa mencapai target dalam waktu 15 tahun. "Dalam waktu 15 tahun, kita berharap bisa mencapai tingkat kemakmuran dan kesejahteraan yang jauh lebih baik daripada sekarang," katanya.

Presiden berharap, usaha untuk mencapai target 15 tahun itu dilakukan dengan berbuat yang terbaik setiap tahunnya.

Untuk itu, Yudhoyono berharap semua elemen masyarakat bersama-sama mewujudkan target untuk 2011, antara lain, pertumbuhan ekonomi 6,4 persen, penurunan pengangguran hingga 7 persen, dan pengurangan kemiskinan hingga 11,5 persen.

Menurut Yudhoyono, Indonesia adalah negara besar. Oleh karena itu, pembangunan Indonesia juga harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan.***

Source : Kompas.com, Senin, 3 Januari 2011 | 15:05 WIB

Ada 14 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

  • sandy s

Senin, 3 Januari 2011 | 17:18 WIB

dibuai kata2 manis kalo di itung 10rb dolar ke rupiah...kenyataan aja tabungan tersangka gayus lebih dari 10.000 dolar ,masi byk nolnya lagi, sementara kenyataaan masi byk yang menganggur

Balas tanggapan

  • Maruasas Arios

Senin, 3 Januari 2011 | 17:02 WIB

Pak SBY perhitungan seperti itu adalah hanya omongan doang dilihat donk fakta dilapangan, bagaimana perekonomian dapat meningkat sementara kenyamanan, keamanan berusaha tidak didapat oleh pemilik modal di Republik ini, prosedur perijinan berbelit-belit hampir disetiap instansi sampai kekelurahan, membutuhkan biaya besar. Pengangguran juga berada dimana-mana coba di cek salah satu contoh di KBN Jakarta Utara ribuan pelamar setiap hari mondar-mandir, tanba miskin ya. Kebijakan-kebijakan di Republik ini banyak yang tidak jelas, jadi mustahillah kebutuhan hari ini misalnya makan saja susah kadang makan cuman 1 kali sehari, kalau mau perlu bukti silahkankan ke-KBN

Balas tanggapan

  • ongsin tan

Senin, 3 Januari 2011 | 17:00 WIB

Pak BEYE kataka th 2025 pendapatan penduduk 10.000 us.....apakah dith 2025 pak BEYE masih hidup.....agar dpt mengetahui .....apakh tercapai prediksi tsb.....atau ini bicara ngawur .....dihitung dr mana...hasil produksi ga ada krn ga pabrik ...investor ga msk krn takut dimalingi dan indonesi biaya tinggi ( itu...tu biaya siluman)....apa hasil dr pajak.....tp rakyat ga menikmati....bingung deh gua

Balas tanggapan

  • joyo alay

Senin, 3 Januari 2011 | 16:50 WIB

100jt per tahun??...yakin??

Balas tanggapan

  • ang yohansen

Senin, 3 Januari 2011 | 16:24 WIB

mustahil pak.selama aparat hukum dan pemerintahannya korup.

Balas tanggapan

Jumat, 24 Desember 2010

Toyota Bayar "Uang Damai" 10 Juta Dollar AS

Toyota Bayar "Uang Damai" 10 Juta Dollar AS

Jumat, 24 Desember 2010 | 16:03 WIB

Toyotainthenews

TERKAIT:

CALIFORNIA, KOMPAS.com — Toyota Motor Corporation (TMC) sepakat membayar "uang damai" senilai 10 juta dollar AS (Rp 90,3 miliar) kepada ahli waris almarhum Mark Saylor, yang mengalami kecelakaan saat mengendarai Lexus pada Agustus 2009. Musibah itu menewaskan empat orang, termasuk Mark yang bekerja di California Highway Patrol beserta istri, anak, dan kakak ipar. Peristiwa ini menjadi penyebab mencuatnya recall sampai jutaan unit yang dialami Toyota.

Uang tersebut disepakati TMC setelah upaya mediasi dilakukan oleh pihak penggugat di pengadilan setempat. Sebelumnya, pihak Saylor menuntut Toyota dengan tuduhan mencelakai hingga menghilangkan nyawa dengan sengaja karena produk yang cacat. Seperti dilansir Dow Jones, Kamis (23/12/2010), jumlah uang itu sudah dikonfirmasi Larry Willis, pengacara Bob Baker, pemimpin dealer Lexus (Toyota) di Orange County, California, sebagai terdakwa dalam kasus ini.

Semula, Toyota meminta agar upaya mediasi tak diekspose ke publik. Namun, hal itu ditolak oleh salah satu hakim pemimpin pengadilan negeri. Toyota sempat mengajukan keberatannya karena menjadikan kasus ini terbuka bagi umum dan tak menghargai keinginan penggugat dan tergugat.

Dengan adanya kesepakatan damai ini, keluarga Mark Saylor diminta menangguhkan tuntutannya di pengadilan sehingga Toyota hanya dibebani sanksi administratif. Kasus tersebut hanya sebagian kecil dari apa yang dihadapi Toyota akibat recall jutaan mobil mereka karena pedal gas "bermasalah".

Penulis: Agung Kurniawan/ Editor: Bastian Dow Jones

Sumber : Kompas.com, Jumat, 24 desember 2010/Dibaca : 2681

Kamis, 21 Oktober 2010

Vas Bunga Hasil Daur

PROFIL USAHA

Vas Bunga Hasil Daur

Achmad Iskandar. (Foto : Kompas/Defri Werdiono)***

Oleh DEFRI WERDIONO

Dari bengkel kerja sederhana miliknya, Achmad Iskandar mampu memproduksi lebih dari 900 vas bunga setiap bulan. Barang yang terbuat dari plastik bekas itu dijual ke sejumlah daerah di Kalimantan Timur. Kini, keinginannya hanya satu, yakni memperbesar produksi dan pasar.

Ide bapak enam anak untuk berkecimpung dengan sampah plastik berawal dari ketika dirinya mengikuti kegiatan pameran dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Tingkat Nasional di Balikpapan, Kalimantan Timur, Juli 2008. Saat itu, Iskandar yang mewakili Pemerintah Kota Balikpapan melihat banyak produk daur ulang dari daerah lain yang ikut dipamerkan.

Namun, sepanjang mata memandang, produk daur ulang tersebut wujudnya konvensional, mulai dari taplak meja, tas plastik, hingga produk lainnya yang sudah banyak di pasaran. Saat itulah Iskandar yang sebelumnya menggeluti tanaman hias tebersit untuk membuat sesuatu yang berbeda dan lebih baik daripada yang ada. Jatuhlah pilihan membuat vas bunga.

Ia pun kemudian mempelajari berbagai hal tentang plastik. Ia mencoba mencari tahu apa saja yang bisa dibuat dari sampah plastik, bagaimana mengolahnya, hingga bahaya apa yang bisa ditimbulkan olehnya. Iskandar menghabiskan waktu beberapa bulan untuk uji coba sebelum akhirnya berhasil membuat produk yang dianggap sempurna.

Ditemui di rumahnya, Jalan AMD Sungai Ampal Nomor 68, Kota Balikpapan, Senin (16/8), lelaki kelahiran Muara Muntai, 57 tahun silam, ini menunjukkan sejumlah vas bunga buatannya. Ada sekitar 20 macam bentuk, mulai dari yang berukuran tinggi 25 sentimeter dengan diameter 12 sentimeter hingga tinggi 45 sentimeter dengan diameter 40 sentimeter.

Barang daur ulang itu dicat dan diberi gambar, antara lain bunga hingga motif khas Dayak. Selain vas bunga, Iskandar juga mencoba membuat produk lain berupa tiruan batu alam atau yang biasa disebut marmo. Marmo biasa di tempel pada dinding rumah sebagai ornamen ataupun yang sekadar untuk melapisi lantai seperti ubin.

Oleh Iskandar, produknya dijual mulai dari Rp 25.000 per buah untuk vas bunga dan Rp 175.000 per meter persegi untuk marmo. Selain di pasar, ia menjual ke kantor-kantor pemerintah daerah dan pameran. ”Sejauh ini pemasarannya baru sampai ke Samarinda, Bontang, Sanggata, dan Tenggarong. Itu pun persentasenya lebih besar vas bunga,” ujarnya.

Metode pembuatan vas bunga ala Iskandar cukup sederhana. Sampah plastik yang sudah terkumpul dimasak hingga berubah menjadi pasta. Setelah itu pasta dituangkan pada cetakan yang terbuat dari semen. Setelah mengeras, baru cetakan dilepas untuk selanjutnya dilakukan proses akhir. Untuk menghaluskan digunakan ampelas dan resin untuk menutup pori-pori.

Semua proses peleburan sampah plastik ini memanfaatkan peralatan manual berupa kompor gas dan wajan berdiameter 18 inci. Ada empat set kompor gas di bengkel Iskandar. Cara melelehkan plastik pun cukup singkat. Untuk meleburkan satu wajan plastik diperlukan waktu sekitar 20 menit, sementara untuk proses pembentukan dibutuhkan waktu 10 menit.

Sampah plastik dari berbagai jenis itu sebelumnya dipilah menjadi tiga bagian, yakni plastik padat, seperti botol oli; plastik lunak, seperti botol air mineral; dan plastik berlapis foil, seperti bungkus makanan kecil. Setelah itu sampah yang memiliki rongga, seperti botol minyak pelumas, dipotong kecil-kecil agar tidak memakan tempat.

”Dari tiga bagian plastik ini kemudian dicampur dengan perbandingan tertentu. Perbandingan ini cukup penting agar plastik bisa bercampur dengan baik dan mengeras. Sebab, jika kebanyakan sampah padat, tidak akan jadi,” ujarnya.

Untuk sekali proses peleburan, Iskandar bisa menghabiskan 150-200 kilogram sampah plastik tergantung persediaan. Dari jumlah itu tercipta sekitar 300 vas dengan rincian satu vas bunga memerlukan bahan baku 0,5 kilogram sampah.

Diakui, ketersediaan sampah plastik menjadi salah satu kendala yang dihadapi. Kota Balikpapan yang cukup kecil, dengan jumlah warga yang tidak terlalu besar, membuat sampah yang dihasilkan masih terbatas. Karena itu, Iskandar mencoba strategi dengan cara merangkul ibu rumah tangga dan pemulung sebagai pemasok utama bahan baku.

Iskandar pun menyosialisasikan kepada warga di Kelurahan Sumberejo—wilayah tempat ia tinggal—tentang pentingnya sampah plastik. Warga diingatkan agar memilih dan mengumpulkan sampah yang masih bisa digunakan. Sampah yang terkumpul itu diantar ke rumah Iskandar. Sebagai bentuk penghargaan dan memotivasi warga, Iskandar membayar Rp 1.000 untuk setiap kilogram sampah.

”Sebelumnya saya hanya membeli sampah seharga Rp 500 per kilogram dari warga di Kota dan Rp 1.000 untuk warga yang berada di pinggir laut. Tujuannya agar warga tidak membuang sampah ke laut. Namun, dalam perkembangannya, warga yang berada di kota kurang termotivasi untuk mengumpulkan sampah. Akhirnya, sejak satu tahun lalu harganya disamakan,” katanya.

Selain bahan baku, kendala lain yang dihadapi Iskandar adalah minimnya peralatan. Dengan peralatan yang ada saat ini jelas sekali produk yang dihasilkan masih terbatas. Karena itu, sejumlah upaya telah dilakukan untuk mewujudkan usaha yang lebih besar dengan alat-alat pabrikan, salah satunya membuat badan hukum usaha menjadi CV Prima Executive dengan maksud untuk memperkuat posisi ketika ada pihak ketiga yang ingin bekerja sama.

Mendaur ulang sampah menjadi barang baru bukan saja menjadi solusi untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru karena Iskandar sudah memiliki enam karyawan. Lebih dari itu, membuat produk daur ulang adalah upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

  • reign

Sabtu, 2 Oktober 2010 | 10:56 WIB

ini baru inovasi elegan

Balas tanggapan

Kamis, 23 September 2010

KEMISKINAN : Yang Terus Dikalahkan

KEMISKINAN

Yang Terus Dikalahkan

Amad dan Kliwon, dua buruh gali asal Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, ngobrol di tepi Jalan Adiyaksa, Jakarta, sambil menunggu panggilan, Senin (20/9). Meluasnya kemiskinan menyebabkan jumlah buruh gali terus bertambah. Persaingan antarsesama mereka untuk mendapatkan pekerjaan pun semakin ketat. (KOMPAS/LUCKY PRANSISKA)***

Ruang kontrakan itu berukuran 2 meter x 3 meter, berdinding bata, bercat putih kusam, berlantai semen yang terkelupas di beberapa bagian. Setengah lantai tertutup tikar pandan lusuh. Baju bercampur bau keringat bergantungan di dinding kosong dan lembab.

Rumah sewaan di bilangan Pondok Aren, Tangerang, Banten, itu dijejali delapan sampai 10 tukang gali. ”Saya membayar sewa Rp 1.500 semalam,” ujar Solikin (43), asal Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Kelompok buruh sektor informal itu berdatangan dari berbagai daerah. Upah mereka antara Rp 40.000 dan Rp 50.000 per hari, sesuai kesepakatan dengan mandor. ”Tidak setiap hari bekerja,” ungkap Darma (43). ”Kadang seminggu kami menganggur, tidak dapat pekerjaan.”

Kalau sudah begitu, pengeluaran harus diperketat. Makan cukup sekali sehari. Menunya nasi disiram kuah sayur dan sepotong kerupuk, Rp 3.500. Ditambah rokok, pengeluaran bisa ditekan di bawah Rp 9.000 per hari. Sisanya ditabung untuk keluarga di kampung yang dikunjungi sebulan sekali.

Uang yang diserahkan untuk biaya hidup satu keluarga dengan empat sampai lima anak kadang mencapai Rp 1 juta per bulan. Ini masih lebih baik dibandingkan upah di kampung yang jauh lebih rendah, itu pun kalau ada pekerjaan. ”Sekarang cari kerja di kampung susah sekali,” ucap Darma.

Sulitnya pekerjaan di kampung juga dirasakan Kaswari (39), buruh gali yang mangkal di perempatan Jalan Pemuda-Jalan Wahidin, Kota Cirebon. Namun, pekerjaan di kota juga tak mudah. Sering sampai lebih dari dua hari tak ada order kerja.

Berjubelnya buruh tanpa keterampilan dan sangat terbatasnya lapangan kerja di kota membuat persaingan upah tak terelakkan. Upah Rp 15.000-Rp 20.000 sudah sangat disyukuri. ”Kalau pasang harga, anak istri di rumah tidak bisa makan,” ujar Kaswari yang bersama keluarganya tinggal di daerah Ciledug, Kabupaten Cirebon.

Tak tersentuh

Wajah kemiskinan di kota dan kota besar adalah muara yang persoalan hulunya hampir tak pernah disentuh. Kampung dan dusun ibarat wilayah antah berantah yang sumber dayanya terus dikeruk dan wilayahnya dikuasai atas nama devisa negara. Mereka yang masih punya daya berduyun-duyun mengungsi ke kota, tanpa keterampilan, tanpa modal, mengaisi remah-remah rezeki untuk bertahan hidup.

Urbanisasi tak terbendung ketika disparitas pembangunan desa-kota semakin tak terjembatani. Kalau pada tahun 2009 sekitar 53 persen penduduk Indonesia menumpuk di perkotaan, menurut perkiraan Kepala Lembaga Demografi Universitas Indonesia Sonny Harry B Harmadi, jumlahnya menjadi 68,3 persen pada 2025.

Artinya, dua pertiga penduduk Indonesia akan tinggal di kota. Kemiskinan di perkotaan meningkat akibat daya dukung lingkungan dan daya serap ekonomi terbatas. Kebutuhan kota akan tenaga kerja terampil tak terpenuhi sehingga angka pengangguran perkotaan meningkat drastis. Kemiskinan antargenerasi dengan mudah terbangun karena orang yang menganggur cenderung lebih mudah menjadi miskin.

Seperti dialami Ny Bona (57). Ibu 11 anak itu memulung sampah plastik di kali bersama suaminya, buruh cuci motor, dan tinggal di kolong jembatan Karet Tengsin, Jakarta Pusat. Ia terdampar di Jakarta ketika tanah warisan di kampungnya, Cikarang, Bekasi, habis dibagi-bagi dan dijual. Sembilan anaknya tak menyelesaikan sekolah dasar. Dua bungsunya masih duduk di bangku SMP dan SD, tetapi terancam putus sekolah karena menunggak iuran bulanan.

Spiral kemiskinan

Kondisi keluarga Ny Bona adalah gambaran sulitnya memutus spiral kemiskinan di Indonesia. Hilangnya tanah petani, seperti dikemukakan Don Marut dari Forum NGO Internasional mengenai Pembangunan Indonesia (Infid), selalu bergerak paralel dengan pertumbuhan kemiskinan di Indonesia.

Persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan cenderung tidak berubah selama hampir 20 tahun. Lembaga Demografi FE UI mencatat, pada 1990, persentase penduduk miskin sekitar 15,1 persen dan tahun 2008 sekitar 15,4 persen.

”Itu kalau standarnya satu dollar per hari. Kalau 1,5 dollar per hari, jumlahnya menjadi 57 persen atau 66 persen atau lebih dari 100 juta jiwa kalau ukurannya dua dollar sehari,” ujar Don.

Kemiskinan multidimensi menjadi sangat serius karena lebih dari 50 persen tenaga kerja di Indonesia hanya berpendidikan SD ke bawah. Mereka akan berjubel di pasar kerja selama usia produktif meski terus digilas oleh roda mekanisme pasar.

Jadi, jangan harap program-program penghapusan kemiskinan yang parsial dan bias kota WIBseperti selama ini akan menghapus mimpi kemiskinan pada tahun 2015! (THY/INE/MH)

Source : Kompas, Selasa, 21 September 2010 | 03:49

Angka Kemiskinan Masih Simpang Siur

LAPORAN MDGS

Angka Kemiskinan Masih Simpang Siur

JAKARTA - Besarnya angka kemiskinan Indonesia masih simpang siur. Untuk kepentingan yang berbeda, angka yang menunjukkan jumlah penduduk miskin tersebut muncul dengan besaran berbeda.

Dalam laporan yang dibawa ke Pertemuan Tingkat Tinggi PBB mengenai Tujuan Pembangunan Milenium yang berlangsung pada 20-22 Desember 2010 di New York, angka kemiskinan yang dilaporkan adalah 13,3 persen atau jumlah penduduk miskin sekitar 31,02 juta—data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dari Sensus Penduduk 2010.

Menurut catatan Kompas, dalam program Jaminan Kesehatan Masyarakat yang diperuntukkan bagi orang miskin, penerima bantuan iuran dari pemerintah berjumlah 76,4 juta orang. Mereka adalah penduduk yang dapat menggunakan jaminan itu ketika sakit. Angka itu lebih dari dua kali lipat dari angka penduduk miskin menurut BPS, yakni 31,02 juta jiwa pada tahun 2010.

Kesimpangsiuran angka penduduk miskin tersebut ditanggapi oleh Suahasil Nazara, Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia. Sementara itu, Ketua Institut Hijau Indonesia Chalid Muhammad dari sudut pandang yang berbeda menyoroti angka yang dilaporkan Indonesia ke forum di New York.

Metodologi

Menurut Suahasil Nazara, kemiskinan mempunyai banyak dimensi yang kerap tidak terwakili dalam data statistik. Orang-orang yang hidup di sekitar garis kemiskinan, misalnya, tidak dapat diabaikan karena jumlahnya besar. Persentase kemiskinan (sesuai laporan BPS) sekitar 13 persen, tetapi angka penerima bantuan pemerintah terkadang lebih besar. ”Itu mencerminkan terdapat keluarga yang masih layak menerima bantuan, tetapi tidak dikategorikan miskin oleh statistik BPS,” ujar Suahasil.

Menurut dia, persentase kemiskinan yang dikeluarkan BPS merupakan hasil perhitungan dengan menggunakan metode tertentu. Yang terpenting, tegasnya, adalah menggunakan satu metodologi yang sama agar angka-angka tersebut dapat diperbandingkan antarwaktu sehingga trennya bisa diketahui.

Kualitas hidup

Suahasil menambahkan, salah satu tantangannya ialah mendekatkan perhitungan makro dengan realitas kemiskinan untuk kepentingan intervensi program-program mengurangi kemiskinan.

Hal lainnya, kualitas dan perbaikan hidup masyarakat belum tentu tercermin dari statistik itu. Angka kemiskinan turun belum berarti ada perbaikan kualitas hidup.

Menyoroti kualitas hidup, menurut Chalid, kualitas hidup penduduk miskin semakin buruk karena kebijakan pemerintah berpihak kepada kapitalis.

Kualitas hidup yang antara lain juga tampak dari pemenuhan kebutuhan akan air bersih dipandang Chalid tidak akan mencapai target MDGs karena, ”Patokannya adalah air dengan pemipaan, air bersih yang diswastakan. Bagaimana penduduk miskin akan mengakses? Harganya saja demikian mahal,” ujarnya. Dengan kebijakan semacam itu, tambahnya, penduduk miskin akan semakin jatuh miskin.

Suahasil menjelaskan, lantaran kompleksitasnya, penanganan kemiskinan perlu dilakukan secara komprehensif. Menurut dia, pemerintah sebetulnya telah mempunyai pendekatan dalam mengatasi masalah kemiskinan dengan membagi menjadi tiga kluster, yakni berbasis keluarga, komunitas, serta usaha mikro atau kecil.

”Kluster pertama biasanya berbentuk bantuan sosial. Kluster ketiga merupakan upaya meningkatkan pendapatan yang melibatkan lembaga keuangan atau perbankan,” ujarnya. (INE/ISW)***

Source : Kompas, Selasa, 21 September 2010 | 04:15 WIB

Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

  • Yusuf Sofiyandi

Selasa, 21 September 2010 | 14:16 WIB

membuka lapangan kerjanya bagaimana mas ? siapa yang membuka ? jangan bilang anda meminta pemerintah? tidak solutif

Balas tanggapan

  • Imron Musa

Selasa, 21 September 2010 | 08:46 WIB

Sederhana kok menurunkan kemiskinan, cukup membuka lapangan kerja perkuat sistem jaminan sosial masyarakat, sehingga terkontrol pddk miskin

Balas tanggapan

Kependudukan Masalah Tabu

Kependudukan Masalah Tabu

PARIS, SENIN - Dalam Pertemuan Tingkat Tinggi PBB mengenai Tujuan Pembangunan Milenium, ada satu masalah yang tercecer dibahas, yaitu bagaimana menjawab pertanyaan, menghadapi ledakan penduduk dunia apa yang harus dilakukan?

Bagi kebanyakan aktivis, pertumbuhan penduduk merupakan hal yang amat besar dan penting. Amat penting karena persoalan kependudukan terkait erat dengan masalah kemiskinan dan kondisi lingkungan. Namun, masalah kependudukan justru diabaikan pada pertemuan-pertemuan tingkat kepala negara.

”Pada saat Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) diadopsi, tidak ada satu pun target yang menyasar masalah populasi atau akses keluarga berencana,” ujar Alex Ezeh, Direktur Eksekutif pada Studi Populasi Afrika dan Pusat Penelitian Kesehatan di Nairobi.

Para aktivis kampanye memberikan perhatian khusus kepada masalah kemiskinan dan kerusakan lingkungan. Pertumbuhan populasi pada beberapa kasus telah menjadi penyebab suatu negara jatuh miskin.

Selama tiga hari, 20-22 Desember 2010, berlangsung Pertemuan Tingkat Tinggi PBB di New York mengenai MDGs. Pada akhir acara akan diluncurkan resolusi sebagai penguatan Deklarasi Milenium yang diratifikasi negara-negara pada 2000.

Di negara-negara berkembang, pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali akan menambah beban pada persoalan infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan. Masalah jumlah penduduk yang tinggi juga memperluas kerusakan lingkungan dan menambah parah dampak dari perubahan iklim.

Ezeh menunjuk pada persoalan yang dihadapi Afrika. Meski proporsi penduduk miskin turun, angka absolut penduduk miskin tetap tinggi karena pertumbuhan penduduk amat pesat.

”Jika populasi bertumbuh 3 persen per tahun, itu berarti jumlah penduduk menjadi dua kali lipat setiap 23-24 tahun,” ujarnya. ”Hal itu berarti, Anda memiliki dua kali lebih banyak anak-anak yang butuh pendidikan. Nyaris tak mungkin bagi negara untuk melipatduakan jumlah sekolah dan guru dalam jangka waktu itu,” ungkap Ezeh.

Saat ini pertumbuhan penduduk Indonesia adalah 1,49 persen dengan jumlah penduduk—hasil Sensus Penduduk 2010—237,6 juta jiwa. Negara Afrika dengan persoalan kependudukan tersebut antara lain Kenya yang tahun 2009 jumlah penduduknya 38,6 juta setelah bertambah sekitar 10 juta dihitung sejak tahun 1999.

Sementara itu, pertemuan di New York akan diwarnai kenyataan bahwa pencapaian target dari delapan sasaran MDGs akan beragam. Beberapa berhasil, beberapa lagi tidak dalam tujuan utama mengurangi kemiskinan dan kelaparan dunia.

”Pada pertemuan ini akan ditegaskan arah dan hasil, sukses dan kegagalan, dari keseluruhan sasaran MDGs,” ungkap Olav Kjorven, seorang pejabat senior pada badan pembangunan PBB, UNDP.

”Dengan sisa lima tahun lagi, ini momen kebenaran bagi komunitas internasional,” ujar Kjorven kepada BBC.

Kualitas hidup meningkat

Pemerintah meyakini penurunan angka kemiskinan di Indonesia menunjukkan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan hal itu ketika dimintai tanggapan seusai rapat di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (20/9).

”Sebetulnya kita bisa melihat dari ukuran apa pun kemiskinan di Indonesia menurun, artinya ada perbaikan kualitas kehidupan,” ujar Hatta.

Pendapatan sebesar 1 dollar AS per hari, menurut dia, tak menjadi satu-satunya indikator untuk mengukur kemiskinan. Penurunan kemiskinan juga tecermin dengan ukuran-ukuran yang digunakan pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.

”Bukan hanya diukur dengan pendapatan 1 dollar AS per hari. Ada perlindungan sosial yang diberikan pemerintah berupa subsidi, kesehatan gratis, pendidikan gratis. Kalau itu diterjemahkan pada daya beli, pendapatannya relatif lebih dari 1 dollar karena dia mendapat akses pendidikan dan kesehatan yang dijamin negara,” ujar Hatta.

Meski begitu, Hatta mengakui, di wilayah Indonesia timur, pertumbuhan ekonomi yang berada di atas rata-rata nasional belum mencerminkan perbaikan kualitas hidup. Hal ini dikarenakan rata-rata IPM di kawasan Indonesia timur yang masih di bawah rata-rata nasional.

”Artinya, pendidikan, kesehatan, dan akses infrastruktur dasar belum memadai. Akses pada air bersih, listrik, dan sarana transportasi antara lain merupakan kebutuhan dasar untuk meningkatkan kualitas hidup,” ujar Hatta. (AFP/BBC/DAY/ISW)***

Source : Kompas, Selasa, 21 September 2010 | 03:58 WIB

Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Kirim Komentar Anda

  • agung baskoro

Selasa, 21 September 2010 | 12:11 WIB

Akhinya ada juga artikl yang membahas kependudukan. memang harus lebih banyak lagi membahas hal ini demi mencapai populasi yang ideal dan optimal. bila tidak percuma mau melakukan usaha apapun ya gak bakal berhasil sebab muncul terus masalah baru lebih cepat dibandingkan solusinya.

Balas tanggapan

Ekspektasi Harga Beras Naik Dorong Spekulasi

Ekspektasi Harga Beras Naik Dorong Spekulasi

JAKARTA - Aksi spekulasi para pedagang yang menahan stok antara lain disebabkan ekspektasi mereka terhadap harga beras yang masih akan terus naik. Akibatnya, harga beras medium yang banyak dikonsumsi masyarakat tetap tinggi sekalipun stok beras dilaporkan cukup banyak.

Harga beras medium rata-rata saat ini di Cirebon pada sebulan terakhir adalah Rp 6.200 hingga Rp 6.400 per kilogram. Naik sekitar Rp 1.000 per kilogram pada sebulan terakhir. Hasil survei Kementerian Perdagangan bersama dinas perdagangan di seluruh provinsi mencatat, harga beras medium rata-rata bulan Juli Rp 6.500 per kilogram dan pada Agustus Rp 6.662 per kilogram.

Guru Besar Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin di Jakarta, Jumat (27/8), mengatakan, aksi spekulasi oleh pedagang beras dipengaruhi beberapa hal. Pertama, pedagang memiliki ekspektasi atas pendapatan tinggi saat ini. Kedua, mereka mengantisipasi harga beras masih akan naik lagi dengan menjaga stok. Ketiga, hal itu karena informasi produksi yang tidak lengkap.

Kondisi seperti ini membuat pasar tidak stabil dan harga akan terus berfluktuasi. Kekhawatiran terbesar dipengaruhi stabilitas pasokan beras.

Pemerintah yakin, produksi beras akan bertambah seiring meningkatnya luas tanam yang diperkirakan mencapai 13,35 juta hektar per September 2010. Produksi padi diperkirakan mencapai 67,15 juta ton gabah kering giling atau naik 3,08 persen.

Harga gabah tinggi

Ekspektasi harga beras yang tinggi sedikitnya terlihat dari harga gabah yang tetap tinggi di Karawang, Jawa Barat, Jumat. Harga gabah kering panen (GKP) bertahan pada kisaran Rp 3.500 hingga Rp 3.700 per kilogram.

Petani mengakui bahwa harga GKP tetap tinggi sekalipun areal panen meluas sebulan terakhir. Harga yang tinggi rupanya didorong turunnya produktivitas padi akibat serangan hama penyakit dan tingginya permintaan menjelang Lebaran.

Cholil (42), petani di Desa Sukasari, Kecamatan Purwasari, Jumat, menyebutkan, tengkulak berani membeli GKP berendemen di atas 55 persen dengan harga Rp 3.700 per kilogram. Sebagian hasil panen hanya laku Rp 3.300 per kilogram karena rendemen 51-52 persen akibat banyaknya bulir hampa.

”Serangan wereng batang coklat dan kondisi cuaca membuat proses pengisian malai tidak optimal. Banyak bulir hampa. Dari 2.000 meter persegi sawah, hasil panen turun dari 1 ton jadi 0,25 ton GKP,” kata Cholil.

Abu (35), petani di Desa Parakan, Kecamatan Tirtamulya, menambahkan, tengkulak berani membeli dengan harga tinggi karena hasil panen petani umumnya menurun musim ini. Meski jauh lebih tinggi ketimbang harga pembelian pemerintah, yaitu Rp 2.640 per kilogram GKP, tengkulak tetap mau membeli.

Panen padi musim tanam kedua (gadu) di Karawang terus meluas sebulan terakhir. Kini panen telah mencapai wilayah golongan air (irigasi) II-III di Karawang bagian tengah dan utara. Dinas Pertanian Karawang memperkirakan luas panen musim ini mencapai 23.000 hektar atau sekitar 25 persen dari luas lahan.

Akan tetapi, produktivitas cenderung turun, yakni dari 7,32 ton GKP per hektar pada musim rendeng lalu menjadi 7,04 ton GKP per hektar musim ini. Penurunan produktivitas terutama dipengaruhi serangan wereng batang coklat. Hingga pertengahan Juli lalu, luas serangan mencapai 3.308 hektar, dengan kondisi ringan 2.779 hektar, kondisi sedang 354 hektar, berat seluas 103 hektar, dan puso di 72 hektar.

Di Kabupaten Purwakarta, meluasnya areal panen dan meningkatnya pasokan dari penggilingan-penggilingan padi menekan harga beras di pasar lokal. Meski demikian, harga masih tetap bertahan tinggi.

Aziz Jaelani (54), pedagang beras di Pasar Rebo, menyebutkan, harga beras rata-rata turun Rp 500 per kilogram pada dua pekan ini, yakni kualitas super Rp 7.000, medium Rp 6.500, dan kualitas III Rp 6.000 per kilogram.

Dinas Pertanian Purwakarta mencatat, per akhir Juli 2010, luas area panen mencapai 32.013 ha atau 87,5 persen dari target panen. Adapun produksi mencapai 183.008 ton GKG atau 84 persen dari target tahun ini 217.729 ton GKG. (ham/mkn)***

Source : Kompas, Sabtu, 28 Agustus 2010 | 05:31 WIB

Gunakan SDA untuk Mengatasi Kemiskinan

KUALITAS HIDUP

Gunakan SDA untuk Mengatasi Kemiskinan

JAKARTA - Pemerintah harus berkomitmen dan konsisten menggunakan sumber daya alam untuk pemberantasan kemiskinan yang masih sangat memprihatinkan. Komitmen itu sesuai dengan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, yakni intinya tentang pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Demikian diungkapkan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mencontohkan kebijakan yang berpihak pada pemberantasan kemiskinan dengan sumber daya alam, antara lain mengutamakan pemenuhan kebutuhan domestik gas dan energi lainnya sebelum mengekspor.

Hal senada diungkapkan Ketua Institut Hijau Indonesia Chalid Muhammad. Keduanya dimintai pendapat tentang kondisi kemiskinan di Indonesia.

Menurut Kalla, ”Sumber daya alam itu kalau ada sisanya, baru diekspor. Semua kontrak yang habis masa berlakunya atau kontrak yang baru dimulai harus begitu bunyi dan spiritnya. Jadi, komitmen mengelola national resources kita itu jelas.”

Dengan mengutamakan kepentingan untuk kebutuhan domestik, menurut dia, berarti sumber daya alam itu digunakan oleh industri dalam negeri untuk berproduksi dan menciptakan lapangan kerja. Penciptaan lapangan kerja adalah salah satu upaya nyata mengatasi persoalan kemiskinan.

”Tidak seperti sekarang, gas kita lebih banyak diekspor ketimbang untuk kebutuhan domestik. Padahal, industri kita dan PLN kekurangan gas,” katanya.

Gas yang murah juga sangat dibutuhkan PLN untuk bahan bakar pembangkit energi listrik. Karena murah dan efisien, PLN bisa meningkatkan efisiensinya dan mengurangi kebutuhan subsidi. Selanjutnya, PLN bisa menambah kapasitas dengan dana yang sama dari pemerintah.

Salah satu contoh konkret kebijakan pemerintah yang langsung berpihak dan menyentuh kebutuhan riil rakyat ialah pengalihan pemakaian minyak tanah ke elpiji—terlepas dari segala kekurangan karena kurang tepat pengelolaannya. ”Masyarakat bisa menghemat pengeluaran sekitar Rp 30.000 per bulan, lingkungan juga bersih,” katanya.

”Pemerintah bisa menghemat anggaran subsidi sekitar Rp 40 triliun per tahun. Dana itu bisa dialihkan untuk membangun puskesmas, biaya pendidikan, dan sebagainya, yang semuanya kembali untuk peningkatan kesejahteraan rakyat,” ucapnya.

Senada dengan Kalla, Chalid mengungkapkan, ”Saat ini pemerintah justru mengutamakan ekspor sumber daya alam untuk memenuhi permintaan negara- negara maju, sementara kita sendiri kekurangan dan harus membeli dari pasar dunia yang harganya lebih mahal. Kebijakan semacam ini jelas semakin memiskinkan rakyat.”

Menurut Chalid, memberantas kemiskinan tak bisa dilepaskan dari sistem supply-demand global. Negara berkembang sekarang dipaksa mengeksploitasi sumber dayanya untuk memenuhi kebutuhan negara-negara maju. Di sisi lain, kebijakan yang berpihak pada ekspor sumber daya pada akhirnya justru memiskinkan rakyat. (DIS/ISW)***

Source : Kompas, Selasa, 21 September 2010 | 02:53 WIB

 

Site Info

free counters

Followers

bisnisreang@yahoo.com Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template